Alumni Kepri Bandung: Hari Marwah Harus Jadi Momentum Evaluasi Arah Pembangunan Kepri

TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com) – Momentum peringatan Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau pada 15 Mei 2026 dimaknai secara mendalam oleh para mantan aktivis pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau yang tergabung dalam Alumni Kepri Bandung.

 

Dalam pertemuan silaturahmi dan refleksi perjuangan yang digelar di Café Qozy Tanjungpinang, Jumat (15/5/2026), para mantan aktivis menyampaikan pernyataan sikap terkait arah pembangunan dan masa depan Provinsi Kepulauan Riau.

 

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh mantan aktivis mahasiswa Kepri di Bandung yang sejak tahun 1999 aktif memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau. Hadir di antaranya Endri Sanopaka, Hendra Red dan Rahmat yang juga merupakan mantan Koordinator Bintan Student Concorcium Of Bandung (BSCB), Daeng Bahar mantan Sekjen KPMR dan IMPKR Bandung, Said M Idris mantan Ketua Umum Permakri, Rully D Putra, M Reza dan sejumlah aktivis Permakot Bandung, serta Sahrizan Arie mewakili Alumni Kepri Bandung dari Batam dan Dika W Putra sebagai perwakilan mahasiswa Kepri Bandung asal Karimun.

 

Dalam forum tersebut, Endri Sanopaka ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan sikap Alumni Kepri Bandung pada peringatan Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026.

 

Endri menyampaikan bahwa Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau yang kini memasuki usia 24 tahun tidak seharusnya hanya diperingati sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi arah perjuangan pembentukan provinsi tersebut.

 

“Hari Marwah yang kini sudah 24 tahun menjadi refleksi bagi kita masyarakat Kepulauan Riau, terutama oleh kami eksponen mahasiswa yang pernah ikut berjuang mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau berpisah dari Provinsi Riau. Ini momentum untuk kita kembali mengevaluasi, apakah hasil perjuangan itu telah sesuai dengan cita-cita perjuangan kita dahulu,” ujar Endri.

 

Ia menegaskan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau dahulu bertujuan agar masyarakat Kepri, khususnya generasi muda daerah, memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang di tanah kelahirannya sendiri.

 

“Kita dahulu berjuang agar anak-anak Kepri tidak lagi menjadi penonton di daerahnya sendiri. Kita ingin anak negeri mendapatkan peluang untuk dapat berkiprah baik di pemerintahan, legislatif maupun sektor swasta, baik secara langsung maupun tidak langsung,” lanjutnya.

 

Menurut Endri, Provinsi Kepulauan Riau lahir bukan semata karena pertimbangan administratif dan politik, melainkan melalui perjuangan panjang demi menghadirkan kesejahteraan, keadilan pembangunan, pelayanan publik yang lebih baik, serta membuka ruang kemajuan bagi masyarakat daerah.

 

Ia menilai semangat awal pembentukan Provinsi Kepri harus terus dijaga agar tidak tergerus oleh kepentingan jangka pendek yang menjauh dari cita-cita perjuangan rakyat.

 

Dalam pernyataannya, Alumni Kepri Bandung juga mengingatkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau agar menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama pembangunan daerah. Mereka berharap Kepri mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, memperkecil kesenjangan pembangunan antarwilayah, memperkuat pelayanan publik, serta menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat pesisir, pulau-pulau terluar, nelayan, generasi muda dan pelaku ekonomi lokal.

 

Selain itu, Alumni Kepri Bandung turut menyoroti masih adanya ketimpangan pembangunan dan terbatasnya ruang bagi sebagian anak daerah untuk berkembang di negeri sendiri.

 

“Kepri tentu tidak dapat menutup diri dari kehadiran sumber daya manusia luar daerah karena kita hidup dalam semangat keterbukaan dan persaingan global. Namun demikian, anak-anak daerah harus tetap menjadi prioritas utama, terutama mereka yang memiliki kapasitas, integritas dan kecintaan terhadap daerah ini,” kata Endri.

 

Ia juga menyampaikan bahwa masih banyak pejuang daerah yang selama ini luput dari perhatian dan tidak tercatat dalam sejarah resmi perjuangan Provinsi Kepulauan Riau, meskipun mereka ikut berjuang demi lahirnya provinsi tersebut.

 

“Mungkin nama mereka tidak tertulis dalam buku sejarah, tetapi teriakan dan perjuangan mereka pernah mengguncang tanah Jawa, bahkan ibu kota negara, dengan pekikan yang hingga hari ini masih terngiang dalam ingatan kami: ‘Provinsi Kepri Adalah Harga Mati’,” tegasnya.

 

Dalam refleksi tersebut, Alumni Kepri Bandung mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah menjadikan Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum evaluasi terhadap arah pembangunan daerah.

 

Menurut mereka, tantangan Kepri saat ini semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi antarwilayah, penguatan identitas budaya Melayu, pengelolaan sumber daya maritim, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga tantangan pengangguran generasi muda di tengah posisi strategis Kepri sebagai daerah perbatasan dan kawasan ekonomi internasional.

 

Karena itu, Alumni Kepri Bandung berharap pemerintah daerah mampu menghadirkan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif, adil dan berpihak kepada masyarakat luas, bukan hanya kelompok tertentu.

 

Menutup pernyataan sikap tersebut, Alumni Kepri Bandung menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari kekuatan moral masyarakat dalam mengawal marwah Provinsi Kepulauan Riau demi masa depan daerah yang lebih maju, berkeadilan dan bermartabat.

 

“Perjuangan belum selesai. Provinsi Kepulauan Riau harus terus dijaga agar tetap berdiri di atas cita-cita perjuangan rakyatnya. Marwah daerah ini tidak boleh hilang dari arah pembangunan yang dijalankan,” tutup Endri Sanopaka. (Dwi)

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights