Catatan Rahma untuk Tanjungpinang: Menjaga Nadi Ekonomi Kota Gurindam
TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com)-Sebagai seorang pemimpin yang menahkodai Tanjungpinang di masa-masa paling menantang, saya seringkali menekankan bahwa ekonomi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang kepastian isi perut rakyat.
Pandangan saya mengenai kondisi ekonomi saat ini, jika disandingkan dengan periode 2021-2023, berakar pada filosofi “bertahan untuk bangkit.” Tantangan ekonomi hari ini merupakan kelanjutan dari guncangan global, namun fondasi yang dibangun pada masa transisi Covid-19 adalah kunci keberlanjutan.
Saya sering mengingatkan bahwa pada tahun 2021, saat dunia masih tertatih, Tanjungpinang harus mencari cara menjaga daya beli masyarakat. Kita tentu masih ingat bagaimana aktivitas masyarakat saat itu hampir lumpuh total. Kebijakan work from home (WFH) diberlakukan bagi pegawai, dan jalanan sepi.
Satu-satunya nadi yang tetap kita jaga adalah pasar tradisional yang tetap boleh buka dengan aturan protokol kesehatan yang sangat ketat, karena di sanalah jantung pertahanan pangan kita berada.
Pemerintah kota pun harus melakukan langkah ekstrem berupa refocusing anggaran. Dana yang ada dialihkan secara besar-besaran untuk jaring pengaman sosial dan kesehatan. Pertumbuhan ekonomi sebesar 0,59% pada tahun 2021 mungkin terlihat kecil bagi pengamat awam, namun bagi saya, itu adalah sebuah kemenangan besar.
Angka tersebut melambangkan titik balik dari kontraksi ekonomi yang dalam; sebuah tanda bahwa nadi perdagangan di Kota Gurindam mulai berdenyut kembali meski perlahan.
Memasuki tahun 2022, kita semakin optimistis namun tetap waspada. Pertumbuhan ekonomi melonjak signifikan ke angka 4,12% sebagai hasil dari kerja keras kolektif antara pemerintah dan pelaku UMKM. Saya selalu percaya bahwa UMKM adalah tulang punggung yang menyelamatkan Tanjungpinang dari kebangkrutan sosial.
Keberhasilan Pemerintah Kota (Pemko) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam mengelola ekonomi di masa sulit ini mendapat pengakuan nyata dari Pemerintah Pusat. Data menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan pusat melalui kucuran Dana Insentif Daerah (DID).
Pada tahun 2022, Tanjungpinang berhasil mendapatkan DID sebesar Rp11,9 Miliar, dan berkat konsistensi kinerja kita, angka ini meningkat tajam pada tahun 2023 menjadi Rp17,5 Miliar. Kenaikan insentif ini adalah bukti valid bahwa tata kelola keuangan dan pengendalian inflasi kita berada di jalur yang benar.
Terkait inflasi, saya patut berbangga pada dedikasi TPID. Tanjungpinang berhasil menjaga harga tetap terkendali di saat kota-kota lain bergejolak. Fokus utamanya saat itu adalah memastikan harga pangan, terutama cabai dan beras, tidak mencekik leher rakyat. Pengendalian inflasi adalah bentuk nyata kehadiran negara.
Pada tahun 2022, inflasi kita berada di kisaran 4,45%, angka yang sangat kompetitif saat nasional dipicu kenaikan harga BBM.
Menjaga inflasi bukan hanya soal operasi pasar, tapi soal empati. Saya turun langsung ke pasar-pasar tradisional untuk memastikan distribusi barang tidak tersumbat oleh spekulan. Pendekatan personal ini jauh lebih efektif daripada sekadar rapat di balik meja. Hasilnya nyata, pada tahun 2023, inflasi semakin melandai di angka 2,34% (yoy).
Melihat kondisi ekonomi sekarang, pemerintah saat ini harus mampu menjaga momentum transisi tersebut. Pertumbuhan ekonomi di atas 4% harus terus dipacu. Tidak boleh ada ruang bagi kelalaian dalam memantau harga kebutuhan pokok.
Ekonomi saat ini memerlukan sentuhan inovasi digital.
Jika dulu fokus kita adalah pemulihan fisik, maka sekarang adalah saatnya integrasi pasar tradisional ke ekosistem digital. Saya juga selalu menekankan sinergi antara pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan manusia.
Jalan yang mulus tidak akan berarti banyak jika daya beli masyarakat rendah.
Keberhasilan menjaga ekonomi di masa kritis adalah bukti resiliensi Tanjungpinang. Ke depan, kemandirian pangan adalah harga mati. Kita tidak boleh hanya bergantung pada pasokan luar daerah, melainkan harus mengoptimalkan lahan produktif mandiri.
Politik ekonomi yang paling tinggi adalah saat rakyat kecil bisa tersenyum karena harga kebutuhan pokok terjangkau dan lapangan kerja tersedia. Ekonomi bukan soal kemewahan, tapi soal keberlangsungan hidup dan martabat setiap warga Tanjungpinang yang saya cintai.***











