Silaturahmi KKSS di Batam, Abdul Kadir Karding Ajak Warga Jaga Warisan Leluhur dan Perkuat Persaudaraan

BATAM (Sempadanpos.com) – Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Abdul Kadir Karding, mengajak seluruh warga KKSS di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk terus menjaga warisan perjuangan para leluhur sekaligus memperkuat nilai-nilai persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri acara silaturahmi bersama pengurus KKSS Kepri dan KKSS Batam di Kopi Boemi, Batam Center, Senin (29/6/2026) malam. Dalam kesempatan itu, Karding membuka sambutannya dengan sebuah pantun yang sarat makna tentang pentingnya menjaga sejarah dan identitas leluhur.

 

“Pohon bakau di tepi selat, tempat singgah burung merpati, darah Daeng Cellak pembawa daulat, warisan leluhur abadi di hati,” ucap Abdul Kadir Karding yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin).

 

Ia mengingatkan agar nilai-nilai luhur budaya Bugis-Makassar senantiasa menjadi pedoman warga KKSS, yakni Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling memuliakan), dan Sipakainge (saling mengingatkan).

 

“Mari kita saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan. Jaga soliditas dan jadikan organisasi KKSS ini sebagai rumah besar bersama untuk membangun jejaring,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kepri, Ady Indra Pawennari, mengulas perjalanan sejarah panjang leluhur Sulawesi Selatan di Kepulauan Riau. Menurutnya, Kepri merupakan tanah bersejarah bagi lima Opu Daeng Bersaudara yang berperan besar dalam perjalanan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang pada abad ke-18.

 

Ady menjelaskan, lima tokoh tersebut, yakni Opu Daeng Parani, Opu Daeng Manambung, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cellak, dan Opu Daeng Kemasi, merupakan putra Opu Daeng Rilakka, keturunan ke-33 Raja Luwu.

 

Dengan semangat Siri’ na Pacce, mereka turut mempertahankan wilayah Semenanjung Melayu dari ancaman penjajah. Perjuangan itu kemudian melahirkan kepemimpinan Yang Dipertuan Muda Riau, dimulai dari Opu Daeng Marewah dan Opu Daeng Cellak sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I dan II pada periode 1722–1745.

 

Estafet kepemimpinan diteruskan oleh Opu Daeng Kamboja, putra Opu Daeng Parani, serta Raja Haji Fisabilillah, putra Opu Daeng Cellak, yang menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III dan IV hingga tahun 1784.

 

Dari garis keturunan tersebut lahir pula Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, ulama, sejarawan, sekaligus sastrawan besar abad ke-19 yang dikenal sebagai pencipta karya monumental Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan dikenal sebagai Bapak Bahasa Indonesia.

 

Ady menyebut, pemerintahan keturunan lima Opu Daeng Bersaudara berakhir pada masa Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi sebagai Yang Dipertuan Muda Riau X yang memimpin pada periode 1858–1899.

 

“Jika dihitung dari Yang Dipertuan Muda Riau I hingga X, maka total masa pemerintahan lima Opu Daeng Bersaudara beserta keturunannya di tanah Kepri berlangsung selama 177 tahun,” jelasnya.

 

Menurut Ady, paparan sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa warga KKSS di Kepri bukan sekadar datang dan menetap, tetapi memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban dan sejarah di tanah Melayu.

 

Menutup sambutannya, Ady membacakan sumpah setia Opu Daeng Marewah di hadapan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Ibni Sultan Abdul Jalil sebagai simbol kesetiaan dan pengabdian kepada negeri.

 

Acara silaturahmi tersebut turut dihadiri pengurus BPP KKSS Andi Yuslim Patawari, Sekretaris KKSS Kepri Amrullah Rasal, Ketua KKSS Batam Andi Tajuddin, serta sejumlah sesepuh KKSS Kepri, di antaranya Andi Amang dan Syamsu.(red)

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights