Ratusan Warga Demo ke PLN Tanjungpinang, Tuntut Kejelasan Blackout dan Ganti Rugi Elektronik Rusak
TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com) – Ratusan warga Tanjungpinang mendatangi kantor PLN di Jalan Bakar Batu, Rabu (14/10/2026) dini hari. Mereka menuntut penjelasan terkait pemadaman listrik berjam-jam yang melanda Kota Tanjungpinang sejak Senin (12/10/2026) tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Pemadaman listrik yang berlangsung hingga belasan jam tersebut memicu keresahan masyarakat ditambah hilangnya jaringan internet. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, warga juga mengeluhkan sejumlah peralatan elektronik yang diduga rusak akibat gangguan kelistrikan tersebut.
Dalam aksi itu, sejumlah warga membawa peralatan elektronik yang mereka klaim mengalami kerusakan, di antaranya penanak nasi atau magic com, mesin cuci, kompor listrik, pendingin ruangan (AC), hingga televisi.
Suasana demonstrasi sempat memanas dan nyaris berujung adu mulut antara warga dengan pihak PLN. Warga mendesak perusahaan listrik tersebut memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab pemadaman serta tanggung jawab terhadap kerugian yang dialami pelanggan.
PLN Akui Pasokan Listrik Masih Terbatas
Dalam penjelasannya, pihak PLN menyampaikan bahwa kemampuan pasokan listrik yang tersedia saat ini hanya sekitar 32 megawatt (MW). Kapasitas tersebut disebut hanya mampu melayani sekitar 35.000 rumah, sehingga pemadaman bergilir harus dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan.
Sementara itu, pasokan listrik untuk Tanjungpinang masih bergantung pada pengiriman dari Batam. Gangguan pada sistem kelistrikan di Batam menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan listrik ke wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya.
Kondisi ini membuat masyarakat harus menghadapi pemadaman yang berlangsung berulang kali, bahkan setelah pengiriman listrik dari Batam mulai dilakukan secara bertahap.
Pengiriman Listrik dari Batam Dilakukan Bertahap
Berdasarkan informasi terbaru yang disampaikan anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Rudi Chua, pengiriman listrik dari Batam masih berlangsung secara bertahap. Penambahan daya dilakukan perlahan untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan di Batam.
Dengan mekanisme tersebut, pasokan yang masuk belum dapat langsung menutupi seluruh kekurangan daya di Tanjungpinang.
Rudi menjelaskan, listrik yang baru dikirim dari Batam diprioritaskan untuk menghidupkan kembali wilayah Kabupaten Bintan, termasuk Kijang, Tanjung Uban, Gesek, Kangboi, dan sejumlah wilayah lainnya yang dilaporkan mengalami pemadaman nonstop selama sekitar 53 jam sejak Senin pagi.
Akibat pengiriman yang dilakukan secara bertahap, kebutuhan listrik di Tanjungpinang masih belum terpenuhi sepenuhnya. Pemadaman di sejumlah wilayah pun masih berpotensi terjadi, termasuk pada Rabu sore hingga malam hari.
Menurut informasi yang disampaikan Rudi, kebutuhan listrik Tanjungpinang ditargetkan dapat terpenuhi setelah total pasokan mencapai sekitar 100 MW, dengan target penyelesaian pengiriman pada tengah malam.
Namun, target tersebut masih bergantung pada kelancaran proses penambahan pasokan dan tidak adanya hambatan atau gangguan baru pada sistem kelistrikan.
“Saya akan tetap memantau proses perkembangan pengiriman ini sampai selesai (sampai pemadaman berakhir) dan akan update jika ada timbul hambatan atau gangguan,” kata Rudi Chua.
Warga Menanti Tanggung Jawab dan Kepastian
Di tengah keresahan masyarakat, perhatian juga tertuju pada respons pemerintah daerah dalam menangani krisis listrik yang melanda Tanjungpinang dan Bintan.
Dalam berbagai unggahan di media sosial, Rudi Chua terlihat aktif menyampaikan perkembangan informasi mengenai gangguan listrik atau blackout serta memantau proses pemulihan pasokan dari Batam.
Sementara itu, masyarakat masih menantikan langkah nyata dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kota Tanjungpinang, maupun Pemerintah Kabupaten Bintan, untuk membantu mengatasi dampak pemadaman yang dirasakan warga.
Selain menuntut kepastian kapan pasokan listrik kembali normal, warga juga berharap ada penjelasan mengenai mekanisme pengaduan dan kemungkinan ganti rugi atas peralatan elektronik yang mengalami kerusakan.
Hingga pasokan listrik kembali normal, masyarakat berharap PLN bersama pemerintah daerah dapat memberikan informasi yang transparan mengenai perkembangan pemulihan, jadwal pemadaman, serta langkah penanganan terhadap kerugian yang dialami pelanggan.
Pemulihan listrik menjadi kebutuhan mendesak karena pemadaman berkepanjangan tidak hanya menghambat aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak terhadap kegiatan usaha, pelayanan publik, dan perekonomian masyarakat. (Dwi)










