Dua Dekade Mengenang Akmal Attatrick: “Jadilah Manusia Dulu, Baru Jadi Wartawan”
TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com) – Dua puluh tahun berlalu, namun pesan itu masih melekat kuat di ingatan. Sebuah nasihat sederhana namun tajam dari almarhum Akmal Attatrick, sosok wartawan senior dan tokoh pers Kepulauan Riau yang dikenal kritis, berani, dan penuh idealisme.
Kenangan itu dituliskan oleh Hendri Chaniago, yang mengaku mendapat banyak pelajaran hidup dan jurnalistik dari sosok yang pernah menjadi pemimpin redaksi pertamanya di dunia pers.
Menurut Hendri, saat itu dirinya masih sangat muda dan baru menapaki dunia jurnalistik di Kepri. Bersama sejumlah wartawan muda lainnya, ia digembleng langsung oleh Bang Akmal—sapaan akrab Akmal Attatrick—yang dikenal sebagai wartawan senior dengan pengalaman panjang sejak era Presiden Soeharto.
“Bang Akmal bukan wartawan kemarin sore. Jam terbangnya tinggi. Beliau pernah merasakan kerasnya tekanan terhadap kebebasan pers di masa Orde Baru,” tulis Hendri.
Bahkan, kata dia, Bang Akmal pernah menjadi buruan penguasa akibat tulisan-tulisannya yang kritis terhadap pemerintah saat itu. Pengalaman tersebut menjadikan dirinya sebagai sosok wartawan yang tangguh dan disegani.
Dalam perjalanan jurnalistiknya, Hendri mengaku kerap diajak turun langsung ke lapangan bersama sang mentor. Mereka menyusuri pulau-pulau di Kepulauan Riau hingga ke pelosok Daik Lingga, belajar memahami denyut kehidupan masyarakat dari dekat.
Tak hanya dikenal sebagai insan pers, Bang Akmal juga aktif di dunia politik dan disebut dekat dengan Megawati Soekarnoputri serta menjadi bagian dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Meski demikian, Hendri menilai idealisme jurnalistik sang guru tidak pernah tergoyahkan.
Di tengah salah satu sesi pembelajaran, Bang Akmal pernah melontarkan pertanyaan yang hingga kini terus membekas di benak murid-muridnya.
“Jika kamu seorang wartawan, lalu di depanmu ada orang kecelakaan motor. Jatuh. Terkapar. Apa yang kamu lakukan? Memotretnya dulu atau menolongnya dulu?” kenang Hendri mengulang pertanyaan sang mentor.
Pertanyaan itu sempat membuat suasana hening. Di satu sisi, seorang wartawan dituntut menangkap momen eksklusif demi sebuah berita. Namun di sisi lain, ada nilai kemanusiaan yang tak boleh hilang.
Bang Akmal kemudian memberikan jawaban yang menurut Hendri menjadi prinsip hidupnya hingga sekarang.
“Jadilah manusia dulu, baru jadi wartawan,” ujar Bang Akmal kala itu.
Bagi Hendri, pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini, terutama di era media sosial ketika hampir semua orang bisa menjadi “wartawan dadakan” melalui telepon genggamnya masing-masing.
“Dunia mungkin butuh berita cepat. Tapi dunia lebih butuh manusia yang masih punya hati,” tulisnya.
Pada tahun 2011, Akmal Attatrik telah berpulang. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan, terutama soal empati dan nurani dalam jurnalistik, disebut tetap hidup dalam setiap karya dan langkah para muridnya.
“Selamat jalan, Bang Akmal. Terima kasih telah mengajarkan saya cara menjaga kewarasan nurani,” tutup Hendri Chaniago.










