Mak Yong Didaftarkan ke UNESCO, Kepri Gelar Perayaan Budaya dan Tradisi Makan Berhidang di Tanjungpinang
TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com)– Kesenian tradisional Mak Yong, yang telah resmi didaftarkan sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO, mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri). Pada Senin (22/9/2025), acara pembukaan Mak Yong Warisan Dunia digelar meriah di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), Kawasan Gurindam 12, Jalan Hangtuah, Kota Tanjungpinang. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan tradisi makan berhidang, sebagai simbol kebersamaan dan warisan budaya Melayu.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, antara lain Asisten I Pemprov Kepri Mazrul Hendri mewakili Gubernur Kepri, Ketua LAM Kepri Dato’ Wira Setia Laksana H. Raja Al Hafiz, Kepala Balai Pelestarian Wilayah IV Julhari S.S., S.Hum, Danlanud RHF Kolonel Pnb Rony Widodo, serta perwakilan Forkopimda lainnya.
Dalam sambutannya, Julhari mengungkapkan bahwa Mak Yong telah resmi didaftarkan ke UNESCO sejak 31 Maret lalu dan akan disidangkan pada tahun depan untuk penetapan resminya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Ia menekankan bahwa Mak Yong merupakan identitas penting bagi masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Tanjungpinang.
“Pelestarian Mak Yong juga mendapat dukungan dari negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Bahkan, perwakilan dari Mak Yong Malaysia kemungkinan akan tampil dalam acara ini sebagai bentuk diplomasi budaya,” jelas Julhari.
Sementara itu, Mazrul Hendri mewakili Pemko Tanjungpinang menekankan pentingnya melestarikan Mak Yong di tengah kemajuan zaman. “Kita perlu mengemasnya dengan cara yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi, agar bisa diterima dan dicintai generasi muda,” ujarnya.
Acara berlangsung semarak dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari tari persembahan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan pejabat, hingga doa bersama. Puncaknya, tradisi makan berhidang digelar sebagai penutup, memperkuat rasa persaudaraan dan semangat melestarikan budaya leluhur. (Dwi)











