Tinta Kritik Lebih Berharga dari Madu Pujian yang Menyesatkan: Seruan untuk Jurnalisme yang Berani dan Bertanggung Jawab
NATUNA (Sempadanpos.com)– Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang baru saja membedah pasal pencemaran nama baik, terutama terhadap pemerintah dan pejabat publik, menjadi angin segar bagi kebebasan pers dan keberanian jurnalis dalam menyampaikan kritik. Putusan ini, bagaimanapun interpretasinya, menegaskan kembali pentingnya peran jurnalis sebagai pengawal demokrasi melalui tulisan-tulisan kritis yang berani mengungkap kebenaran.
Dalam lanskap media yang semakin dipenuhi oleh siaran pers dan pujian terhadap pejabat publik, tulisan kritis yang membongkar fakta dan mempertanyakan kebijakan, meski tidak sempurna, menjadi lebih bernilai. “Pujian manis, meski dibungkus rapi, tak lebih dari madu penjilat – manis di lidah, tapi menyesatkan publik,” ujar Muhammad Rapi, Pimpinan Perusahaan ranaipos.com, dalam artikelnya yang menanggapi opini Ramon Damora berjudul “Menimbang Nalar dengan Kritik.”
Tulisan tersebut merupakan respons atas kritik Rapi sebelumnya dalam artikel “Menjelang 100 Hari Kepemimpinan Cen Sui Lan, Ekonomi Natuna Semakin Terpuruk?” yang mempertanyakan arah kebijakan Bupati Natuna yang baru, Cen Sui Lan. Sayangnya, balasan dari Damora dinilai tidak menyentuh inti persoalan – tak menjawab substansi kritik, tak memberi solusi, dan lebih menyerang pribadi penulis.
“Yang dibutuhkan bukanlah pemoles citra, tetapi keberanian mengoreksi dan membuka ruang diskusi. Kritik bukanlah fitnah, tapi bentuk cinta terhadap perbaikan,” tegas Rapi. Ia juga menekankan bahwa tulisan-tulisan jurnalis lokal harus dilihat sebagai kontribusi konstruktif, bukan ancaman.
Sebagai pejabat baru yang muncul dari kontestasi politik Pilkada 2024, Bupati Cen Sui Lan diharapkan tidak alergi terhadap kritik dan tidak menyimpan dendam politik. Pemerintahan yang sehat perlu dikawal oleh media yang bebas dan berintegritas.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dominasi pemberitaan yang bersifat pujian terhadap pejabat sering kali dipengaruhi oleh tekanan politik, keterbatasan akses informasi, hingga algoritma media sosial. Hal ini berisiko menyesatkan opini publik dan menghambat proses demokratisasi.
Rapi mengingatkan, “Tinta kritik jauh lebih bergizi bagi demokrasi ketimbang madu pujian yang menyesatkan. Kebebasan pers harus dijaga, namun juga dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan etika jurnalistik.”
Ia menutup dengan seruan kepada seluruh jurnalis, khususnya di daerah, untuk tidak gentar menyuarakan kebenaran. “Tinta kritik adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.(***)
Oleh : Muhammad Rapi, Pimpinan Perusahaan ranaipos.com











