Prevalensi Stunting Turun, Anambas Perkuat Gerakan GASING dan Sinergi Lintas Sektor
ANAMBAS (Sempadanpos.com)-Upaya penanganan stunting di Kabupaten Kepulauan Anambas menunjukkan tren positif. Setelah sempat menjadi salah satu lokus stunting nasional pada 2022, kini daerah tersebut berhasil menekan angka prevalensi stunting secara bertahap.
Berdasarkan standar World Health Organization (WHO), ambang batas prevalensi stunting berada di angka 20 persen. Sementara itu, data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) mencatat prevalensi stunting di Anambas turun dari 3,90 persen pada 2024 menjadi 3,79 persen pada 2025.
Meski penurunannya terlihat tipis, capaian tersebut menjadi bukti komitmen dan kerja keras lintas sektor dalam menekan kasus stunting di daerah perbatasan tersebut.
Pemerintah daerah menegaskan, penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Sekitar 70 persen keberhasilan intervensi justru ditentukan oleh sektor non-kesehatan, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pendidikan, hingga perbaikan sanitasi dan perlindungan sosial.
Berbagai langkah konkret terus digencarkan. Di antaranya penimbangan rutin balita di Posyandu, pemberian Vitamin A, penyediaan makanan tambahan bagi ibu hamil dan ibu dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), peningkatan konsumsi sayur dan ikan, edukasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), perbaikan akses sanitasi dan air bersih, hingga bantuan sosial bagi keluarga rentan.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Pra Musrenbang Tematik Stunting atau rembug stunting tingkat kabupaten. Dalam forum itu, para camat diminta menjadi motor penggerak di wilayah masing-masing, memastikan desa dan kelurahan mengalokasikan Dana Desa untuk lima layanan pokok, yakni Kesehatan Ibu dan Anak, Konseling Gizi Terpadu, Perlindungan Sosial, Sanitasi dan Air Bersih, serta Pendidikan Anak Usia Dini.
Desa dengan angka stunting tinggi juga didorong untuk menghadirkan inovasi, tidak sekadar menjalankan program rutin. Pemerintah daerah menilai, percepatan penurunan stunting membutuhkan terobosan dan kolaborasi aktif seluruh pemangku kepentingan.
Sebagai wujud komitmen bersama, diluncurkan Gerakan Anambas Sehat dan Bebas Stunting (GASING). Gerakan ini menjadi simbol sinergi pemerintah, desa, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga keluarga dalam memastikan setiap anak mendapatkan hak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Rembug stunting menjadi momentum strategis untuk memperkuat program preventif dan promotif, termasuk edukasi bagi ibu hamil serta fokus penurunan prevalensi pada anak di bawah dua tahun.
Apresiasi juga diberikan kepada sembilan desa yang telah mencapai status zero stunting. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi dan konsistensi mampu menghasilkan perubahan nyata.
Dengan semangat kebersamaan, Kabupaten Kepulauan Anambas menegaskan komitmennya menjadikan stunting sebagai prioritas pembangunan. Bagi daerah ini, stunting bukan sekadar angka statistik, melainkan masa depan generasi yang harus dijaga sejak dini.
(Alex)











