Voli Daster vs Sarung: Tawa Warnai HUT RI ke-80 di Desa Landak, Anambas

ANAMBAS (Sempadanpos.com)– Suasana perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Desa Landak, Kecamatan Jemaja, tahun ini terasa istimewa dan penuh gelak tawa. Karang Taruna setempat menggelar pertandingan voli antar RT yang cukup unik—bukan hanya karena semangat warganya, tapi juga karena aturan kostum yang tak biasa.

Para bapak-bapak diwajibkan mengenakan daster saat bertanding, sementara ibu-ibu harus bermain voli dengan balutan kain sarung. Pertandingan yang dimulai sejak 14 Agustus ini akan mencapai puncaknya pada laga final yang digelar 17 Agustus 2025.

Setiap sore, lapangan voli RT 01/RW 01 di Kampung Tunjuk dipenuhi warga yang antusias menonton aksi para pemain. Namun, alih-alih suasana tegang seperti pertandingan pada umumnya, yang terdengar justru tawa dan sorakan penonton.

Laga Penuh Tawa dan Hiburan

Sejak laga pembuka, atmosfer langsung pecah oleh kelucuan para peserta. Banyak momen mengundang tawa, seperti pemain yang tersandung sarung, jatuh karena dasternya menghalangi langkah, atau kehilangan bola karena sibuk membetulkan kostum.

“Lucu sekali lihat ibu-ibu main sambil tertawa. Kadang malah lupa bolanya di mana,” ujar Ngadimah, salah satu warga yang turut menyaksikan pertandingan.

Pertandingan malam pun tak kalah seru. Daster warna-warni yang berkibar di lapangan membuat para bapak-bapak tampil menghibur tanpa mengurangi semangat bertanding.

“Mainnya tetap serius, tapi lihat dasternya goyang-goyang itu bikin ngakak,” kata Iyan, penonton dari RT 03.

Bukan Sekadar Lomba, Tapi Kebersamaan

Ketua Karang Taruna Desa Landak, Andika, menjelaskan bahwa ide pertandingan unik ini diambil demi menciptakan perayaan yang meriah dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Dengan kostum daster dan sarung, semua bisa ikut bermain tanpa rasa canggung. Tujuannya agar HUT RI dirayakan dengan kebersamaan dan tawa,” jelas Andika.

Hadiah bagi pemenang berupa barang hiburan yang berasal dari swadaya masyarakat. Namun, lebih dari hadiah, semangat kebersamaanlah yang menjadi tujuan utama kegiatan ini.

Puncak Perayaan 17 Agustus

Laga final yang akan digelar pada 17 Agustus akan menjadi puncak perayaan, bersamaan dengan sejumlah lomba tradisional lain seperti makan kerupuk, membawa karet dengan pipet, meniup gelas Aqua, hingga pijat balon.

Bagi warga Desa Landak, momen seperti ini adalah cara terbaik mempererat hubungan antarwarga dan menciptakan kenangan manis di Hari Kemerdekaan.

“Seru, ramai, dan bikin hati senang. Semoga tahun depan ada lagi,” tutup Ngadimah sambil tersenyum.(red)

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights