Pertumbuhan Ekonomi Tanjungpinang 2026 Masuk 20 Kota Terendah se-Indonesia
TANJUNGPINANG (Sempadanpos.com)– Pertumbuhan ekonomi Kota Tanjungpinang pada 2026 menunjukkan perbaikan secara makro. Berdasarkan data yang disampaikan Pemerintah Kota Tanjungpinang, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2026 mencapai 6,95 persen.
Namun, di tengah capaian tersebut, Tanjungpinang masih tercatat dalam kelompok 20 kota dengan pertumbuhan ekonomi terendah di Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian karena pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang masih tertinggal dibanding sejumlah kota lain di Indonesia.
Capaian tersebut disampaikan dalam paparan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah dan Rilis Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Triwulan II Tahun 2026, yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Dalam paparan Kemendagri, sejumlah kota mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pekanbaru berada di posisi teratas dengan pertumbuhan 7,39 persen, disusul Batam 7,28 persen, Surabaya 7,20 persen, Makassar 7,04 persen, dan Palopo 6,97 persen.
Pertumbuhan ekonomi Pekanbaru bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Sementara itu, data mengenai Tanjungpinang menunjukkan adanya perbaikan dibanding periode sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi kota ini sebelumnya sempat melambat hingga berada di kisaran 3,31 persen namun pada triwulan II berada di kisaran 4,46 persen.
Meski demikian, terdapat perbedaan angka antara data yang disampaikan Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pemko menyebut pertumbuhan mencapai 6,95 persen, sementara angka dalam data BPS berada di kisaran 5,23 persen.
Makro Tumbuh, Tekanan Ekonomi Masih Dirasakan Warga
Peningkatan angka pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Sebagian pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pekerja informal hingga buruh masih menghadapi tekanan akibat harga kebutuhan pokok serta keterbatasan lapangan pekerjaan.
Artinya, pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam indikator makro masih perlu diikuti dengan peningkatan daya beli masyarakat, perluasan kesempatan kerja serta penguatan sektor usaha masyarakat.
Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus berupaya mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama melalui sektor pajak dan retribusi daerah. Peningkatan PAD diharapkan dapat memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam memberikan stimulus serta mendorong aktivitas ekonomi lokal.
Masuknya Tanjungpinang dalam kelompok 20 kota dengan pertumbuhan ekonomi terendah menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah daerah. Pasalnya, di tengah pemulihan ekonomi, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga angka pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut mampu dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Pemerintah daerah dituntut memperkuat sektor-sektor ekonomi yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, termasuk UMKM, perdagangan, jasa, pariwisata dan sektor informal.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka statistik, tetapi mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di Kota Tanjungpinang.
(dwi)










